Blog Kebidanan
  • Home
  • Contact Us

 


Pengertian Dismenore

Dismenore adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keluhan kram yang menyakitkan dan umumnya muncul saat sedang haid atau menstruasi. Dismenore merupakan salah satu masalah terkait haid yang paling umum dikeluhkan.

Wanita yang mengalami dismenore primer memiliki kontraksi rahim yang tidak normal. Hal tersebut akibat ketidakseimbangan kimia di dalam tubuh. Misalnya, zat kimia prostaglandin yang mengontrol kontraksi rahim.

Sementara itu dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, salah satunya endometriosis. Kondisi tersebut terjadi karena jaringan endometrium tertanam di luar rahim. Endometriosis bisa menyebabkan perdarahan internal, infeksi, dan nyeri panggul.

Penyebab Dismenore

Terdapat dua jenis dismenore, meliputi :

  1. Dismenore Primer

Kondisi ini tidak disebabkan oleh masalah pada organ reproduksi. Keadaan ini umumnya disebabkan peningkatan dari hormon prostaglandin, yang diproduksi pada lapisan dari rahim. Peningkatan prostaglandin memicu kontraksi dari uterus atau rahim. Secara alami, rahim cenderung memiliki kontraksi lebih kuat semasa haid. Kontraksi rahim ini dapat menimbulkan keluhan nyeri.

Selain itu, kontraksi rahim yang terlalu kuat dapat menekan pembuluh darah sekitar dan menyebabkan kurangnya aliran darah ke jaringan otot dari rahim. Jika jaringan otot ini mengalami kekurangan oksigen akibat kekurangan suplai darah, keluhan nyeri dapat timbul.

  1. Dismenore Sekunder

Kondisi ini disebabkan pada patologi pada organ reproduksi. Berbagai keadaan yang dapat menimbulkan keluhan dismenore sekunder, yaitu:

  • Endometriosis.
  • Pelvic Inflammatory Disease (PID)/ penyakit radang panggul.
  • Kista atau tumor pada ovarium.
  • Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
  • Transverse vaginal septum.
  • Pelvic congestion syndrome.
  • Allen-Masters syndrome.
  • Stenosis atau sumbatan pada serviks.
  • Adenomiosis.
  • Fibroid.
  • Polip rahim.
  • Perlengketan pada bagian dalam rahim.
  • Malformasi kongenital (bicornuate uterus, subseptate uterus, dan sebagainya).

 Faktor Risiko Dismenore

Ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko mengalami nyeri haid, antara lain:

  • Berusia di bawah 30 tahun.
  • Belum pernah melahirkan.
  • Memiliki riwayat nyeri haid dalam keluarga.
  • Seorang perokok.
  • Masa puber mulai sejak usia 11 atau ke bawah (pubertas dini).
  • Mengalami perdarahan berat atau yang tidak normal selama menstruasi.
  • Mengalami perdarahan menstruasi yang tidak teratur.

 Gejala Dismenore

Sebenarnya gejala dismenore dapat bervariasi pada setiap wanita. Namun, secara umum tanda dan gejala paling khas dari dismenore, yaitu:

  • Kram atau nyeri di perut bagian bawah yang bisa menyebar sampai ke punggung bawah dan paha bagian dalam.
  • Nyeri haid muncul 1–2 hari sebelum menstruasi atau di awal-awal menstruasi.
  • Rasa sakit terasa intens atau konstan.

Bagi beberapa wanita, mereka juga mengalami beberapa gejala lain yang muncul bersamaan sebelum atau saat siklus menstruasi datang. Berikut gejala penyerta lainnya yang sering dikeluhkan wanita ketika menstruasi:

  • Perut kembung.
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Lemah, lesu, dan tidak bertenaga.

Diagnosis Dismenore

Untuk mendiagnosis dismenore, dokter akan melakukan evaluasi riwayat kesehatan dan melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan panggul secara lengkap. Tes tersebut mungkin berupa:

  1. USG (Ultrasonografi). Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ dalam.
  2. Pencitraan resonansi magnetik (MRI). Tes ini menggunakan magnet besar, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar detail organ dan struktur di dalam tubuh.
  3. Laparoskopi. Prosedur minor ini menggunakan laparoskopi, sebuah alat berbentuk tabung tipis dengan lensa dan cahaya. Alat tersebut dimasukkan ke dalam sayatan di dinding perut. Dengan menggunakan laparoskopi untuk melihat ke area panggul dan perut, dokter dapat mendeteksi pertumbuhan yang tidak normal.
  4. Histeroskopi. Ini adalah pemeriksaan visual saluran serviks dan bagian dalam rahim. Pemeriksaan menggunakan alat penglihatan (histeroskop) yang dimasukkan melalui vagina.

Pengobatan Dismenore

Pada dismenore primer, sering kali keluhan nyeri membaik dengan pemberian obat anti-nyeri golongan OAINS (obat anti inflamasi non-steroid). Contohnya, diklofenak, ibuprofen, ketoprofen, asam mefenamat, dan lain-lain. Selain itu, dapat pula diberikan terapi hormonal, misalnya dengan kontrasepsi hormonal (contoh, pil KB).

Untuk meredakan kram menstruasi, seseorang juga perlu:

  • Beristirahat secukupnya.
  • Menghindari makanan yang mengandung kafein dan garam.
  • Menghindari merokok dan minum alkohol.
  • Pijat punggung bawah dan perut.

Penanganan dismenore sekunder disesuaikan dengan penyakit yang menyebabkan keluhan ini. Karena itu, penting agar penyebab dismenore sekunder dievaluasi.

Metode alami lain yang bisa dilakukan untuk meredakan nyeri dari dismenore yaitu:

  • Yoga.
  • Pijat.
  • Akupunktur atau akupresur.
  • Relaksasi atau latihan pernapasan.

Pencegahan Dismenore

Wanita juga perlu berolahraga teratur untuk mengurangi nyeri menstruasi. Untuk membantu mencegah kram, lakukan olahraga secara  rutin setiap minggu.

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Dysmenorrhea
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Dysmenorrhea
Dismenore - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan | Halodoc

Vidio siklus menstruasi

 


Antenatal care (ANC) merupakan pemeriksaan kehamilan yang penting dilakukan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu hamil dan janin. Dengan melakukan antenatal care secara rutin, dokter dapat memantau kondisi kesehatan ibu hamil dan janin.

Tujuan Antenatal Care

Selain memantau kondisi kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang janin, berikut ini adalah beberapa tujuan melakukan antenatal care secara rutin:

  • Mengetahui adanya komplikasi kehamilan yang mungkin dialami di masa kehamilan, termasuk adanya riwayat penyakit dan operasi
  • Mempersiapkan proses persalinan hingga ibu dapat melahirkan bayi lahir dengan sehat dan selamat.
  • Mencegah terjadinya risiko komplikasi maupun kematian ibu saat proses persalinan
  • Mempersiapkan ibu untuk melewati masa nifas dengan baik serta dapat memberikan ASI eksklusif pada bayi
Mempersiapkan perubahan peran sebagai ibu, serta kesiapan keluarga dalam mengasuh anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Antenatal care idealnya dilakukan setiap 4 minggu sekali pada usia kehamilan 4–28 minggu, setiap 2 minggu sekali pada usia kehamilan 28–36 minggu, dan setiap minggu ketika sudah memasuki usia kehamilan 36–40 minggu.

Jika disimpulkan, ibu hamil setidaknya harus melakukan antenatal care sebanyak 6 kali, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, dan 3 kali pada trimester ketiga.

Pelayanan Standar Selama Antenatal Care

Di Indonesia, proses antenatal care memiliki pelayanan standar yang dikenal dengan istilah “10 T”. Berikut ini adalah penjelasan pelayanan standar 10 T beserta tujuan pemeriksaannya:

1. Timbang berat badan

Menimbang berat badan penting dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya gangguan pertumbuhan janin.

Selain itu, tinggi badan ibu hamil juga akan diukur pada pemeriksaan antenatal care pertama untuk mengetahui ada atau tidaknya faktor risiko penyulit persalinan yang mungkin terjadi. Misalnya, tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm bisa meningkatkan risiko terjadinya cephalopelvic disproportion (CPD).

2. Tekanan darah

Pengukuran tekanan darah di awal antenatal care dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidaknya risiko preeklamsia yang berbahaya untuk kehamilan. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg, padahal tekanan darah normal adalah dalam kisaran 90–120/60–80 mmHg.

3. Tentukan nilai status gizi dengan pengukuran lingkar lengan atas

Pengukuran ini hanya dilakukan 1 kali, yaitu pada trimester pertama. Jika pengukuran lingkar lengan atas (LILA) kurang dari 23,5 cm, ibu hamil kemungkinan mengalami kekurangan energi kronis (KEK) yang dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR).

4. Tinggi fundus uteri (puncak rahim)

Mengukur tinggi fundus uteri biasanya dilakukan sebagai perkiraan perkembangan bayi di dalam kandungan. Tinggi fundus normal pada ibu hamil adalah sesuai dengan usia kehamilan.

5. Tentukan presentasi dan denyut jantung janin

Penentuan posisi janin baru bisa dilakukan setidaknya pada akhir trimester kedua. Pemeriksaan ini penting dilakukan, terutama saat menjelang waktu persalinan, untuk memastikan apakah kepala janin sudah masuk panggul atau belum.

Mengukur denyut jantung janin juga menjadi bagian penting dari antenatal care yang berguna untuk mendeteksi gawat janin. Pemeriksaan denyut jantung dan presentasi janin dapat dilakukan secara bersamaan saat pemeriksaan USG.

6. Vaksinasi tetanus

Pemberian vaksin tetenus toxoid juga penting dilakukan untuk membangun kekebalan tubuh ibu hamil terhadap infeksi tetanus. Pemberian vaksin ini biasanya akan disesuaikan dengan status imunisasi ibu hamil yang diskrining saat antenatal care pertama kali dilakukan.

7. Pemberian tablet zat besi

Pemberian tablet zat besi atau tablet tambah darah juga dilakukan sebagai upaya pencegahan anemia defisiensi besipada ibu hamil. Ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi minimal 90 tablet zat besi selama kehamilan.

8. Tes atau pemeriksaan laboratorium

Selain melakukan pemeriksaan tes darah lengkap, ibu hamil mungkin juga perlu melakukan serangkaian pemeriksaan laboratorium, mulai dari golongan darah, resus, hemoglobin, protein dalam urin, kadar gula darah, hingga pemeriksaan sifilis dan HIV.

9. Tata laksana atau penanganan khusus

Jika selama antenatal care ditemukan kelainan atau masalah kehamilan, dokter mungkin akan memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi tersebut, termasuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

10. Temu wicara atau konseling

Setiap kali kunjungan antenatal care, ibu hamil bisa melakukan temu wicara atau konseling mengenai kesehatan bayi dalam kandungan dan berbagai hal yang berkaitan dengan kehamilan.

Beberapa hal yang dapat ibu hamil tanyakan selama konseling adalah penerapan pola hidup bersih dan sehat selama mengandung, pemenuhan asupan gizi seimbang, mengenali tanda maupun gejala bahaya pada kehamilan, perencanaan persalinan, hingga pemilihan KB pascapersalinan.

Pemeriksaan antenatal care penting dilakukan untuk memastikan kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan. Jika Anda mengalami keluhan selama mengandung, jangan segan untuk memeriksakan diri ke dokter guna mendapatkan penanganan yang sesuai.


Vidio Pemeriksaan Antenatal Care




Referensi

Ali, et al. (2020). Antenatal Care Initiation Among Pregnant Women in the United Arab Emirates: The Mutaba'ah Study. Frontiers in Public Health. 8, pp. 211.
Dharmayanti, et al. (2019). Pelayanan Pemeriksaan Kehamilan Berkualitas yang Dimanfaatkan Ibu Hamil untuk Persiapan Persalinan di Indonesia. Jurnal Ekologi Kesehatan, 18(1), pp. 60–69.
American College of Obstetricians and Gynecologists (2021). Routine Tests During Pregnancy.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018). Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan (ANC) di Fasilitas Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak.
Scotland's National Health Information Service. Low Blood Pressure (Hypotension).
Cleveland Clinic (2022). Pregnant? Here’s How Often You’ll Likely See Your Doctor.
John Hopkins Medicine. Fetal Heart Monitoring.
Mayo Clinic (2022). Iron Deficiency Anemia During Pregnancy: Prevention Tips.
Miles, K. Baby Center (2020). Fundal Height: Measuring Large or Small for Gestational Age.

Postingan Lebih Baru Beranda

Cari Blog Ini

Translate

POPULAR POSTS

Categories

  • Gangguan Menstruasi 1
  • hemofilia 2
  • Kelebihan Cairan Ketuban 1
  • Kesehatan Ibu Hamil dan janin 1
  • Penanganan Cephalopelvic Disproportion (CPD) 1
  • Persalinan 1
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Nizhan Hanifa
Lihat profil lengkapku

Blog's Stats

Live Traffict Feed

Flag Counter

Flag Counter

Visitor

Blog Archive

  • ▼  2023 (7)
    • ►  Juni (5)
    • ▼  Mei (2)
      • Dismenore
      • Pentingnya Antenatal Care bagi Kesehatan Ibu Hamil...

Tags

  • Gangguan Menstruasi
  • hemofilia
  • Kelebihan Cairan Ketuban
  • Kesehatan Ibu Hamil dan janin
  • Penanganan Cephalopelvic Disproportion (CPD)
  • Persalinan

Laporkan Penyalahgunaan

Popular Posts

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template